Tikus Sering Digunakan Uji Medis Penelitian, Ini Alasannya!

129

Tikus adalah hewan yang sangat berperan penting dalam percobaan medis. Mulai dari penelitian perumusan obat kanker, hingga pengujian suplemen makanan.

Menurut Foundation for Biomedical Research (FBR), 95% hewan laboratorium adalah tikus. Ilmuwan sangat bergantung pada tikus, karena memiliki beberapa alasan. Salah satu alasan tersebut, pengerat ini kecil, mudah disimpan dan dipelihara serta bisa beradaptasi baik dengan lingkungan baru.

Hewan ini berkembang biak dengan cepat, namun untuk ukuran umur pendek (2-3 tahun). Sehingga, beberapa generasi tikus dapat diamati dalam waktu singkat.

Tikus adalah hewan yang sangat relatif murah bahkan bisa dibeli dengan jumlah besar dari produsen komersial, khusus untuk penelitian. Meski tergolong susah ditangani, umumnya tikus adalah hewan patuh dan mudah ditangani oleh peneliti.

Namun, dari sebagian besar percobaan medis, tikus identik secara genetis, kecuali jenis kelamin. Menurut Nation Human Genome Research Institute, hal tersebut membantu menyeragamkan percobaan medis. Sebagai syarat, tikus memiliki ras yang sama.

Banyak peneliti menggunakan tikus untuk model uji medis karena genetik mereka. Bahkan karakteristik biologi serta perilakunya sangat mirip manusia, dan banyak gejala kondisi yang dirasakan manusia dapat direplikasi pada tikus.

“Tikus adalah hewan mamalia yang memilik banyak proses, seperti manusia dan bisa digunakan menjawab pertanyaan penelitian,” kata perwakilan National Institutes of Health (NIH) Office of Laboratory Welfare Jenny Haliski.

Tikus merupakan hewan yang membuat penelitian efisien karena antomi fisiologi dan genetiknya dipahami oleh peneliti. Kesamaan itu semakin kuat, selama dua dekade terakhir. Ilmuwan kini dapat mengembangkan “tikus transgenik” dengan gen mirip penyebab penyakit manusia.

Ada beberapa tikus SCID (severe combined immune deficiency) yang secara alami terlahir tanpa sistem kekebalan tubuh, sekaligus dapat menjadi model penilitian jaringan normal dan ganas manusia.

Gangguan manusia yang menggunakan tikus sebagai model seperti, hipertensi, diabetes, katarak, kejang, HIV, AIDS, dan masalah pernapasan serta penyakit jantung.

Bahkan tikus bisa digunakan sebagai penguji obat anti-kecanduan berpotensi untuk mengakhiri ketergantungan narkoba.

“Menggunakan hewan penting supaya memahami ilmiah dalam sistem biomedis untuk mengarah ke obat, terapi dan penyembuhan yang sangat berguna,” ujar Haliski.