Serangga Sebagai Sumber Makanan Masa Depan

141

Serangga memang luar biasa!

Mereka melakukan penyerbukan, pembusukan, bahkan diproyeksikan sebagai sumber makanan manusia di masa depan!

Sejarah Entomophagy

Entomophagy (indonesia: entomofagi) adalah praktek memakan serangga yang dilakukan oleh manusia.

Praktek ini telah lazim dilakukan sejak zaman prasejarah. Bukti semut, larva kumbang, dan kutu telah ditemukan di koprolit (kotoran yang menjadi fosil) di gua-gua Meksiko dan Amerika Serikat.

Saat ini di banyak wilayah negara dan budaya seperti Afrika, Asia Tenggara dan Amerika Latin, serangga diternakkan, diproses, dikemas dan dijual di pasar untuk disantap.

Di banyak daerah pedesaan, dimana mungkin tak banyak pilihan makanan konvensional, serangga dapat menjadi solusi!

Beondegi | Kepompong ulat sutera yang dijual di jalanan Korea

Apakah Serangga Adalah Sumber Makanan Masa Depan?

Kebutuhan akan sumber makanan alternatif

Ketika populasi dunia bertambah dan tingkat kemiskinan meningkat, tekanan untuk mengisi setiap perut akan meningkat pesat.

Manusia sangat bergantung pada pilihan protein konvensional seperti daging merah, ikan, dan unggas.

Memelihara ternak dalam jumlah yang cukup untuk memenuhi permintaan yang meningkat (yang diperkirakan akan berlipat dua antara tahun 2000 dan 2050) memberikan tekanan luar biasa pada sumber daya global kita.

Saat ini, 70% lahan pertanian digunakan untuk memelihara ternak. Ternak merupakan penyumbang yang signifikan terhadap emisi gas rumah kaca dan produksi amonia.

Kotoran ternak juga mencemari sumber air dengan patogen ( mikroorganisme parasit) dan racun.

Tantangan-tantangan ini membutuhkan kreativitas dan inovasi agar dapat dipecahkan. Salah satu solusi potensialnya ada pada serangga.

Serangga memiliki efisiensi konversi makanan yang tinggi, yang berarti mereka membutuhkan lebih sedikit makanan daripada makhluk lain untuk mengubahnya menjadi massa tubuh.

Untuk mendapatkan 1 kg protein hewani, ternak harus diberi makan 6 kg protein nabati. Sementara jangkrik hanya memerlukan sekitar 1,7 kg protein nabati untuk menghasilkan jumlah protein hewani yang sama.

Lebih lanjut, Nakagaki dan DeFoliart memperkirakan bahwa sekitar 80% dari tubuh jangkrik dapat dicerna sedangkan ayam hanya 55% dan sapi 40% yang bagiannya dapat dicerna.

Melihat fakta-fakta ini, mudah untuk memahami keuntungan dari memakan serangga.

Serangga juga tidak terlalu memilih makanan daripada hewan ternak serta membutuhkan lebih sedikit air.

Serangga dapat diberi makan dengan organic side waste (limbah makanan). Organic side waste ini bisa berasal dari produk sampingan yang dihasilkan oleh pertanian dan makanan manusia.

Beberapa contohnya adalah rumput, kotoran ternak, limbah kayu, dll.

Ini berarti bahwa serangga yang dapat dimakan seperti cacing kuning tidak hanya berfungsi sebagai makanan, tetapi juga membantu dalam penanganan limbah organik.

Sampai saat ini masih dilakukan penelitian untuk mengetahui efek dari entomofagi. Penelitian yang dilakukan untuk mempertimbangkan penyakit dan pertumbuhan mikroba yang mungkin dapat merugikan manusia.

Mealworm | Ulat yang dapat dimakan

Seberapa Bergizi Serangga?

Nutrisi serangga bervariasi tergantung pada spesies dan tahap siklus hidup mereka. Nutrisi utama pada serangga adalah serat, protein, dan lemak.

Untuk hewan sekecil serangga, mereka memiliki kandungan protein tinggi sebanding dengan daging sapi atau ayam.

Evaluasi kandungan protein dari 100 spesies serangga menyimpulkan bahwa nilainya berkisar antara 13% hingga 77%.

Serangga juga kaya akan asam lemak tak jenuh tunggal (unsaturated fatty acids) dan asam lemak tak jenuh ganda (polyunsaturated fatty acids) yang menjadikannya sumber potensial untuk asam lemak omega-3 dan omega-6.

Beberapa serangga juga sumber vitamin yang baik, seperti asam pantotenat dan riboflavin serta zat gizi mikro lainnya seperti zat besi, magnesium, mangan, fosfor, selenium dan seng.

Apakah Semua Serangga Dapat Dimakan?

Sama seperti kita tidak bisa memakan setiap hewan yang kita lihat, kita juga tidak bisa memakan semua serangga.

Beberapa serangga menghasilkan racun yang berbahaya bagi manusia jika dikonsumsi, beberapa mungkin menyebabkan penyakit, yang lain mungkin tidak enak, dan beberapa mungkin tidak terlalu bergizi.

Sekitar 2000 spesies serangga diketahui dapat dimakan oleh manusia.

Menurut “Daftar serangga yang dapat dimakan di dunia, Universitas Wageningen” kumbang adalah serangga yang paling banyak dimakan, lalu ada ulat di urutan kedua, diikuti oleh semut, lebah, dan belalang.

Menjadi serangga yang bisa dimakan saja tidak cukup. Serangga tersebut harus dapat diternakkan menggunakan standar sanitasi dan kesehatan yang sama dengan yang kita gunakan untuk pemeliharaan ternak.

Jangkrik goreng di Ciamis, Jawa Barat

Kesimpulan

Bagi kebanyakan orang, ide memakan serangga ini menjijikkan tetapi bagi sebagian orang, serangga bisa menjadi jawaban untuk masalah perut mereka.

Semakin jelas bahwa kita perlu memikirkan kembali cara manusia berinteraksi dengan makanan, terutama mengingat fakta bahwa PBB memproyeksikan bahwa pada tahun 2050, populasi dunia akan mencapai 9 miliar orang.

Mempertimbangkan pertumbuhan populasi kita dan ancaman perubahan iklim yang akan segera terjadi serta pengaruhnya terhadap pertanian, kelangsungan hidup spesies kita akan membutuhkan kecerdasan beradaptasi, termasuk dalam beradaptasi memakan serangga.