Sains Dibalik Kejeniusan Messi

138

Saat berusia 10 tahun, Messi didiagnosis menderita defisiensi hormon pertumbuhan yang membuatnya bertubuh sangat kecil.

Hal itu menghambat pertumbuhannya sehingga tak seperti anak-anak lain. Pengobatan dapat dilakukan tetapi akan menelan biaya setidaknya $1.000 per-bulan.

Namun, bakat Messi saat itu sudah sangat kelihatan sehingga FC Barcelona berani untuk mengontraknya.

Kontrak tersebut termasuk pembayaran biaya pengobatannya juga.

Terlepas dari masalah ini, kelainan genetik Messi secara kebetulan menjadikannya salah satu pesepakbola terhebat sepanjang masa.

Ia dirancang secara ilmiah untuk menjadi yang terbaik. Tentu saja klaim ini perlu dibuktikan, tetapi fisika sederhana akan menunjukkan bahwa itu benar.

Di dunia sepakbola, tinggi badan tidak selalu menggambarkan kemampuan bermain sepak bola yang berkualitas.

Sejumlah pemain selain Messi juga memiliki tubuh pendek, tetapi yang mereka capai tidaklah sehebat Messi.

Perbedaan ini, tentu saja, disebabkan oleh faktor-faktor lain.

Low Center of Gravity (Pusat Gravitasi yang Rendah)

Meskipun secara fisik tidak diuntungkan, Messi jarang terjatuh setelah diseret atau ‘dihajar’ oleh kerumunan lawan.

Kemampuannya menggiring bola memang tidak bisa disangkal. Tapi kemampuannya ini dapat dikaitkan dengan pusat gravitasinya yang rendah.

Ketika gaya gravitasi bekerja pada tubuh, setiap partikel penyusun tubuh ini tertarik ke bumi. Gaya yang dihasilkan adalah berat badan.

Titik di mana semua berat badan terkonsentrasi dikenal sebagai pusat gravitasi tubuh (COG, Center of Gravity).

COG adalah titik di mana semua bobot individu seimbang. Nilainya tidak tetap dan bervariasi tergantung pada berat dan distribusi berat ini pada tubuh.

Untuk bola yang sempurna, titik ini terletak di tengah. Akan tetapi, gravitasi bekerja dengan cara yang lebih kompleks ketika bentuk tubuh berubah.

Namun, meskipun bentuknya terdistorsi, ada titik di mana nilainya seimbang, tetapi tidak terletak di tengah-tengah tubuh.

COG manusia diperkirakan sekitar sekitar pinggang. Satu temuan menarik adalah COG lebih rendah untuk tubuh pendek dan lebih tinggi untuk tubuh lebih tinggi.

Pusat gravitasi seseorang berhubungan erat dengan keseimbangan dan stabilitas. Bayangkan jika secara bertahap kamu menundukkan kepala ke tanah.

Pada setiap langkah menundukkannya ke depan, COG kamu bergeser ke atas, di mana berat akan meningkat.

Tanpa perubahan pijakan, tarikan gravitasi pada titik baru ini akan bertindak sebagai torsi dan “membalikkan” tumit kamu, memaksa kamu untuk jatuh.

Gaya jatuh ini tergantung pada jarak antara titik baru ini (COG) dan pusat gravitasi yang asli.

Ilustrasi Center of Gravity

Ini menandakan bahwa orang yang lebih tinggi akan mengalami kesulitan menyeimbangkan daripada orang yang lebih pendek.

Sebaliknya, karena jarak ini lebih kecil untuk orang yang lebih pendek, keseimbangan mereka akan lebih baik.

Meskipun orang yang lebih tinggi mungkin merasa lebih sulit untuk membungkuk, mereka dapat mencapai stabilitas dengan mengurangi COG mereka dengan, misalnya, duduk di kursi.

Prinsip ini menjadi lebih mudah untuk dipahami ketika kita membuat analogi dengan pintu.

Sebuah pintu dapat dipaksa terbuka lebar dengan sedikit dorongan ketika gaya diterapkan pada tepinya.

Sementara, membukanya menjadi semakin sulit saat titik kontak kami semakin dekat ke engsel.

Puncak resistensi diamati ketika titik ini berbatasan langsung dengan engselnya.

Saat titik kontak bergerak lebih jauh dari engsel, pintu menjadi lebih mudah dibuka.

Nah, sekarang kita bisa mengerti mengapa, meski terus-menerus ditackle dan didorong, Messi tetap tak terjatuh.

COG yang rendah juga memungkinkannya untuk melambat dan berakselerasi dalam waktu singkat.

Cukup dapat diterima untuk mengklaim bahwa Messi secara genetika tercipta untuk menjadi yang terbaik dalam sepak bola.

Bakat vs Latihan

Ya, Messi memiliki pusat gravitasi yang lebih rendah dan tetap dapat stabil tanpa terjatuh, tetapi yang lebih penting terlepas dari bakat tersebut, ia berhasil mengontrol bola dengan baik.

Rasanya tidak adil untuk mengesampingkan tahun-tahun pelatihan yang dia lakukan selama masa remajanya.

Layaknya Mozart yang didesain secara genetik untuk memahami musik, tanpa latihan, semuanya akan sia-sia.

Tanpa latihan yang, Messi tidak mungkin mencapai kesuksesan seperti sekarang.

Gairah dan keinginannya untuk menang membuatnya berlatih lebih keras untuk mengembangkan kemampuannya yang unik sehingga dapat bersaing dengan para elit di dunia sepakbola.

Kembali ke aspek bakat, Messi mempertunjukkan kombinasi mematikan daya tahan dan kecepatan.

Satu penelitian tentang dribble menunjukkan bahwa menggiring bola secara signifikan memperbesar konsumsi energi dan tenaga, serta menambah kadar laktat dalam darah ketika dilakukan dengan kecepatan tinggi.

Kadar laktat dalam darah mengacu pada produksi dan akumulasi asam laktat. Ini adalah asam yang sama yang bertanggung jawab untuk pembakaran dan kelelahan yang kita alami di otot kita setelah sesi latihan yang intens.

Selain itu, akselerasi (percepatan) dan deselerasi (perlambatan) yang dilakukan Messi dengan tiba-tiba untuk mengeksekusi tipuannya secara fisik lebih membebani daripada hanya berlari.

Mengapa ini penting? Sebuah penelitian mengungkapkan bahwa karakteristik kecepatan dan kekuatan dipengaruhi 30% hingga 90% oleh faktor genetik, sedangkan puncak penyerapan oksigen atau daya tahan dipengaruhi 40% hingga 70% oleh faktor genetik.

Messi secara alami berbakat dengan sifat-sifat ini, meskipun sekali lagi, akan sangat tidak adil untuk mengabaikan pelatihan dan menempatkan bakat di atas segalanya.

Fakta Pelengkap

Messi menandatangani kontrak pertamanya di tissu kertas. Dia juga telah memenangkan hampir segalanya, kecuali piala terbesar di sepak bola, Piala Dunia, sesuatu yang dilakukan Maradona.

Dengan lebih dari 600 gol di tim senior Barcelona, Messi adalah pencetak gol terbanyak dalam sejarah FC Barcelona.

Celia, nenek dari ibunya dulu selalu menemaninya ke tempat latihan waktu ia masih kecil. Neneknya meninggal tak lama setelah ulang tahunnya yang kesebelas, yang sangat memengaruhi Messi kala itu.

Itu sebabnya Messi selalu melakukan selebrasi dengan memandang dan menunjuk ke atas, sebagai penghormatan kepadanya.