Peneliti Memeriksa Otak Anjing di Mesin MRI, Hasilnya Mengejutkan!

140

Seekor anjing selain menjadi peliharaan, anjing terlatih untuk menjadi pinta dan sering disebut “sahabat terbaik”. Anjing terlatih banyak dimanfaatkan seperti menjadi tenaga profesional untuk membantu polisi melacak sesuatu kejadian

Kegeniusan inilah menjadi daya tarik para ahli untuk meneliti anjing secara ilmiah. Melansir dari laman TIME, Ilmuwan syaraf, Gregory Berns dari Emory Unviersity di Atlanta. Melatih anjing duduk diam di mesin Magnetic Resonance Imaging (MRI) agar otak bisa dipindah dan dilihat proses kerjanya.

Cara juga tidak sampai dibius atau ditidurkan, namun, dengan sadar anjing tersebut duduk di mesin MRI. Bagaimana, kelanjutan dari mesin tersebut? Simak ulasannya yuk.

Seperti halnya komputer, dengan hardware besar agar software berjalan lancar. Ukuran Otak seekor anjing memang terbilang besar

Hasil pertama yang dipindah adalah masalah ukuran otak, sebab ukuran otak sangat menentukan. Lain hal, dengan ukuran yang terbilang besar bisa mencapai 1:50 dari total berat tubuhnya. Beda dengan ukuran anjing yang mencapai 1:125 dari total berat badanya, banyak ukuran yang lebih besar seperti otak kuda 1:600 dan ukuran otak singa mencapai 1:550 dari total tubuhnya.

Dari hal tersebut, hewan anjing mempunyai ukuran otak anjing memang tergolong besar bahkan bisa menampung perkembangan kognitif dan afektif yang lebih luas.

Lebih peka terhadap nada, bahkan dari perubahan nada, anjing bisa mempelajarinya dan membedakan kata-kata manusia

Berns mengaku pernah mengetahui bagaimana anjing mempelajari bahasa manusia, saat mendengar kata, apakah memberikan rangsangan pendengaran yang bermakna lebih. Sudah menghabiskan satu tahun untuk mengamati aktivitas otak anjing ketika mendengar kata-kata familiar atau ocehan yang tak jelas.

Anjing peka terhadap nada, dari nada, dapat belajar membedakan kata-kata manusia. Sama halnya, dengan bayi manusia, bahkan anak anjing lebih merespons ocehan manusia yang bernada tinggi dibandingkan nada rendah.

Menurut peneliti di New York dan Prancis, mengungkapkan jika nada tinggi akan membantu anak anjing memahami kata-kata, namun beda saat sudah besar karena ketika masih anak-anak memiliki oktaf tinggi.

Anjing merupakan hewan yang paling setia

Sebuah studi dilakukan ilmuwan hewan Monique Udell dari Oregon State University dan ahli biologi dari Princeton Unviersity Bridgett von Holdt, menemukan kemiripan antara kromosom anjing dengan manusia.

Sama-sama memilik sindrom Williams-Beuren, dari sindrom bisa mengetahui kelainan perkembangan yang mempengaruhi fiktur wajah manusia dan menyebabkan masalah kesehatan seperti kelain jantung, kelainan otak, dan saraf.

Gejala psikologis sindrom adalah sikap hipersosial, jadi lebih terpaku pada keramahan bersosial. Bahkan orang yang memiliki kelain ini, bisa dilihat dari keramahannya, meski terhadap orang asik, dan sering kali berlebihan empati.

Mungkin dari ulasan diatas bisa menyadarkan, bahwa hewan yang selalu menjadi pelampiasan kekesalan justru lebih pintar dari yang dikira. Namun, harus diketahui, sebagai manusia yang memiliki otak lebih harusnya bisa membedakan mana yang pantas ketika melepaskan kekesalan.