Pendapatan Turun, Otak Tidak Sehat, Mitos atau Fakta?

118

Sebuah studi terbaru menemukan bahwa orang yang mengalami penurunan pendapatan beresiko memiliki masalah berfikir bahkan mengurangi kesehatan otak.

Studi ini diikuti peserta di Amerika Serikat pada akhir 2000-an ketika orang mengalami peristiwa ketidakstabilan ekonomi.

“Hasil membuktikan bahwa volatititas pendapatan ekonomi orang berdampak pada penuan terkait kesehatan di usia paruh baya,” kata penulis utama studi.

Dalam penelitian diterbitkan jurnal Neurology, melibatkan 3.287 orang berusia 23-35 tahun. Pengembangan Risiko Arteri Koroner pada Dewasa Muda (CARDIA), yang mencakup populasi yang beragam ras. Peserta melaporkan pendapatan rumah tangga prapajak tahunan mereka setiap tiga hingga lima tahun dari tahun 1990-2010.

Para peneliti sudah memeriksa seberapa sering pendapatan turun serta persentasenya dari 1990-2010 setiap peserta. Mereka diberikan tes berfikir untuk mengukur seberapa baik menyelesaikan tugas dan butuh waktu berapa lama.

Studi mengungkapkan bahwa orang yang pendapatan menurun memiliki kinerja yang lebih buruk dalam menyelesaikan tugas dibanding orang tanpa pendapatan.

Faktor-faktor lain dari hasil yang sama tersebut menurut penelitian yakni seperti tekanan darah tinggi, tingkat pendidikan, aktivitas fisik, dan merokok.Tidak ada perbedaan antara kelompok pada tes yang mengukur memori verbal.

Dari kelompok studi, 707 peserta juga melakukan pemindaian otak dengan magnetic resonance imaging (MRI) pada awal penelitian dan 20 tahun kemudian untuk mengukur total volume otak mereka serta volume berbagai area di otak.

Para peneliti menemukan, ketika dibandingkan dengan orang-orang tanpa penurunan pendapatan, orang-orang dengan dua atau lebih penurunan pendapatan memiliki volume otak total yang lebih kecil. Orang dengan satu atau lebih tetes pendapatan juga memiliki konektivitas yang berkurang di otak, yang berarti ada lebih sedikit koneksi antara berbagai area otak.