Panduan Kontrasepsi Kamu

173

Kontrasepsi merupakan metode atau alat yang digunakan untuk mencegah kehamilan yang bertujuan untuk mengatur kelahiran atau fertilitas.

Perencanaan, pembekalan, dan penggunaan kontrasepsi disebut keluarga berencana.

Adapun alat kontrasepsi yang populer di Indonesia adalah sebagai berikut:

1. Kondom

Kondom adalah alat kontrasepsi atau alat untuk mencegah kehamilan atau penularan penyakit kelamin pada saat bersenggama.

Kondom biasanya dibuat dari bahan karet latex dan dipakaikan pada alat kelamin pria atau wanita pada keadaan ereksi sebelum bersanggama.

Berdasarkan survei terhadap 13.506 responden, sebagian besar responden yaitu sekitar 63,2% memilih kondom sebagai alat kontrasepsi andalan.

Jenis alat kontrasepsi ini efektif mencegah kehamilan hingga 98% asalkan dipasang dengan benar dan tidak bocor.

Bahkan, kondom merupakan satu-satunya alat kontrasepsi yang dapat mencegah penyebaran infeksi menular seksual (IMS).

Provinsi yang banyak menggunakan kondom sebagai alat kontrasepsi adalah Bengkulu (87%), Bali (80%), dan DKI Jakarta (76%).

2. IUD (Intra Uterine Device)

IUD adalah sebuah alat berbahan plastik yang memiliki bentuk seperti huruf ‘T’ dan dipasang di dalam rahim untuk mencegah kehamilan.

IUD kerap disebut dengan spiral, terbagi dalam dua jenis yaitu:

2.1. IUD yang dilapisi tembaga

IUD yang dilapisi tembaga akan bekerja dengan cara mencegah sperma masuk ke tuba falopi (saluran antara rahim dengan indung telur) sehingga tak dapat bertemu dengan sel telur.

2.2. IUD yang menghasilkan hormon progesteron

IUD yang merangsang hormon progesteron akan menyebabkan penebalan lendir pada leher rahim yang bisa membuat sperma sulit  ke dalam.

Selain itu IUD jenis ini juga dapat menipiskan dinding rahim yang harusnya menebal saat pembuahan terjadi.

3. Pil KB

Pil KB mengandung versi sintetis dua hormon yang diproduksi secara alami dalam tubuh wanita: estrogen dan progestin.

Kedua hormon ini mengatur siklus menstruasi wanita, dan tingkat naik-turun hormon ini memainkan peran penting dalam kehamilan.

Pil kontrasepsi ini tersedia dalam dua jenis, pil kombinasi (mengandung progestin dan estrogen) dan pil mini (hanya progestin).

Hormon yang terkandung dalam pil bekerja dalam tiga cara untuk mencegah kehamilan terjadi.

Pertama, mencegah indung telur untuk melepas sel telur agar tidak terjadi proses pembuahan.

Kedua, mengubah ketebalan lendir leher rahim guna menyulitkan sperma bergerak masuk ke dalam rahim untuk mencari telur.

Terakhir, mengubah lapisan dinding rahim sehingga tidak mungkin untuk sel telur yang dibuahi tertanam di dalam rahim.

4. Suntik KB

Suntik KB adalah salah satu metode kontrasepsi yang biasa digunakan untuk menunda kehamilan.

Namun seperti metode kontrasepsi lainnya, suntik KB memiliki beberapa kekurangan dan tidak disarankan bagi wanita yang memiliki kondisi kesehatan tertentu.

Suntik KB adalah kontrasepsi hormonal yang mengandung hormon progestogen (progestin), yang serupa dengan hormon alami wanita, yaitu progesteron.

Hal ini dapat menghentikan kamu berovulasi. Biasanya, suntik KB disuntikkan pada bagian tertentu pada tubuh, seperti di paha, pundak, di bawah perut, atau lengan atas.

Setelah disuntikkan, kadar hormon akan meningkat dan kemudian menurun secara bertahap hingga suntikan selanjutnya.

5. Tubektomi

Tubektomi adalah prosedur pemotongan atau penutupan tuba falopi atau saluran indung telur yang menghubungkan ovarium ke rahim.

Setelah tubektomi, sel-sel telur tidak akan bisa memasuki rahim sehingga tidak dapat dibuahi. Prosedur ini juga akan menghalangi sperma ke tuba falopi.

Sebagai salah satu metode KB yang bersifat permanen, tubektomi terbukti sangat efektif, namun tidak memengaruhi siklus menstruasi.

Proses ini dapat dilakukan kapan saja, termasuk setelah menjalani proses persalinan normal maupun caesar.

6. KB implan

KB implan adalah tabung plastik kecil dan fleksibel seukuran korek api, yang berisi hormon untuk mencegah kehamilan.

Tabung ini (yang sering disebut susuk) akan dimasukkan (atau diimplan) ke dalam kulit lengan atas.

Dengan pemakaian yang benar, sekali pasang KB implan sudah dapat mencegah kehamilan selama tiga tahun.

Susuk yang sudah dimasukkan ke bawah kulit akan melepaskan hormon progestin dengan kadar rendah untuk mencegah kehamilan.

Cara kerjanya adalah dengan mencegah ovulasi (pelepasan sel telur dalam siklus bulanan).

Jika seorang wanita tidak berovulasi, ia tidak bisa hamil karena tidak ada sel telur untuk dibuahi.

Progestin yang dilepaskan oleh KB implan juga akan menebalkan lendir di sekitar leher rahim (serviks). Ini akan mencegah sperma untuk memasuki rahim.

Progestin juga akan menipiskan lapisan dinding rahim, sehingga jika ada sperma yang berhasil membuahi sel telur, telur tersebut akan sulit menempel pada dinding rahim untuk memulai kehamilan.

7. Senggama terputus (coitus interruptus)

Ejakulasi di luar alias senggama terputus adalah praktik menarik penis dari vagina sebelum mencapai klimaks dan ejakulasi.

Teknik tarik-keluar ini sering digunakan sebagai metode cadangan dari kondom atau pil hormon.

Saat berhubungan seks, pria akan menarik penisnya dari dalam vagina ketika ia merasa akan ejakulasi atau sebelum mencapainya.

Ejakulasi akan dilakukan terpisah, di luar dan menjauhi vagina, dengan berhati-hati agar air mani tidak menetes atau tumpah ke vulva wanita.

Pria yang ingin menggunakan metode ini perlu memahami benar seputar respons seksual dirinya, kapan ia orgasme, klimaks, dan akan berejakulasi.

Kamu perlu tahu kapan tubuhmu mencapai titik tertinggi gairah seksual ketika ejakulasi tidak bisa lagi ditahan atau ditunda.

Metode ini memang memiliki beberapa keuntungan. Misalnya, bebas hormon dan praktis. Selain itu, spermine, senyawa yang ditemukan dalam sperma, sebenarnya cukup bagus untuk kulit kamu.

Spermine diyakini bisa menghaluskan keriput dan mencegah jerawat.

8. Vasektomi

Vasektomi adalah operasi kecil (bedah minor) yang dilakukan untuk mencegah transportasi sperma pada testis dan penis.

Vasektomi merupakan prosedur yang sangat efektif untuk mencegah terjadinya kehamilan karena bersifat permanen.

Dalam kondisi normal, sperma diproduksi dalam testis. Pada saat ejakulasi, sperma mengalir melalui 2 buah saluran berbentuk pipa (vas deferens), bercampur dengan cairan semen (cairan pembawa sperma), dan keluar melalui penis.

Bila sperma masuk dan bergabung dengan sel telur wanita, maka terjadilah kehamilan.

Prosedur vasektomi mempunyai konsep bahwa saluran (vas deferens) tersebut dipotong dan kedua ujung saluran diikat, sehingga sperma tidak dapat mengalir dan bercampur dengan cairan semen.

Dengan kata lain vasektomi adalah prosedur klinik untuk menghentikan kapasitas pria dengan jalan melakukan okulasi vasa deferensia sehingga alur transportasi sperma terhambat dan proses fertilasi (penyatuan dengan ovum) tidak terjadi.

9. Spermisida

Spermisida membunuh sperma dan menghentikan pergerakannya sebelum sperma bisa berenang masuk ke dalam rahim.

Supaya efektif, ia harus ditempatkan jauh di dalam vagina, dekat leher rahim. Spermisida bentuk krim, gel, dan foam biasanya disemprotkan ke dalam vagina menggunakan aplikator khusus.

Jenis lainnya adalah vaginal contraceptive film (VCF) yang berupa lembaran tips yang harus ditempelkan di belakang vagina, dan vagina supositori yang dimasukkan langsung ke dalam vagina.

Spermisida harus dimasukkan ke dalam vagina sebelum berhubungan intim. Masing-masing produk biasanya akan memberi instruksi pada labelnya mengenai kapan waktu yang tepat untuk memakainya.

Ada beberapa produk yang membolehkan kamu langsung berhubungan seks segera setelah memakainya, namun sebagian besar baru mulai bekerja setidaknya 15 menit setelah dipakaikan, sehingga kamu harus menunggu sebentar sebelum memulai penetrasi.

Semua jenis spermisida hanya efektif selama satu jam setelah dimasukkan. Jika kamu sudah memasukkannya ke dalam vagina namun ternyata hubungan seks kamu baru terjadi satu jam setelahnya, kamu perlu memakainya kembali sebelum memulai.

Wanita juga dianjurkan untuk tidak bersih-bersih dengan sabun pencuci vagina (douche) selama 6 jam setelah berhubungan seks memakai spermisida.

10. Diafragma

Diaphragm atau diafragma adalah suatu alat kontrasepsi berbentuk kubah dangkal yang terbuat dari karet atau silikon.

Setengah bagian kubah tersebut dapat kamu isi dengan krim atau jeli pembunuh sel sperma (spermicidal) untuk kemudian dimasukkan ke dalam vagina sebelum berhubungan intim.

Diafragma merupakan salah satu metode kontrasepsi yang berperan menghalangi sel sperma masuk ke dalam rahim serta menjaga agar spermisida tetap berada di dekat leher rahim untuk membunuh setiap sel sperma yang mencoba masuk ke area rahim.

Sayangnya, alat kontrasepsi satu ini tidak memiliki peran dalam menghalau infeksi seksual apapun.

Apabila kamu mengkhawatirkan kesehatan organ seksual pasangan, maka lebih baik pilih kondom yang terbuat dari lateks untuk mencegah penularan penyakit.

Namun, kalau kamu atau pasangan tidak nyaman menggunakan kondom latex, maka kondom yang terbuat dari polyutrethane dapat menjadi pilihan utama.

Perhatikan pula kondisi kesehatan tubuh kamu, apakah sekarang kamu merasa tidak enak badan atau sedang dalam kondisi berisiko terinfeksi penyakit?

Kalau iya, maka jangan coba-coba menggunakan spermisida. Pasalnya, penggunaan spermisida secara terus menerus dapat menyebabkan iritasi pada kelamin dimana akan membuka lebih banyak celah untuk penularan HIV dan infeksi penyakit seksual lainnya.

Informasi Pelengkap

Sebagai informasi tambahan, lihat tabel dibawah:

Perkiraan Jumlah Kumulatif Kematian per 100.000 Wanita Nonsteril Berumur 17-44 tahun, yang Dikaitkan dengan Metode Kontrasepsi, berdasarkan Kelompok Umur

UmurUmur
Metode17–3435–44Total (17–44)
Tanpa Metode179270449
Pill/Non-Perokok20230250
Pill/Perokok127845972
IUD222042
Kondom17421
Diafragma/Spermisida242549
Tubektomi 4

Berdasarkan data, provinsi yang penduduknya enggan menggunakan alat kontrasepsi adalah Bengkulu kemudian Aceh, Yogyakarta, Bali, dan Banten.

Juga, setelah ditelusuri lebih jauh, setiap orang mempunyai alasan tersendiri enggan menggunakan alat kontrasepsi. Penyebabnya meliputi:

• Ingin hamil dan punya anak
• Seks terasa lebih nikmat tanpa alat kontrasepsi
• Alasan kepercayaan
• Takut efek samping alat kontrasepsi
• Sudah steril sehingga merasa tidak perlu pakai alat KB lagi

Nah, karena uda kehabisan sumber, artikelnya sampai sini aja ya, guys! Jangan lupa “Dua Anak Cukup” (slogan pemerintah, loh!)