Konsumsi Daging Tidak Baik Untuk Kesehatan? Cek Faktanya dulu!

108

Banyak artikel mengatakan bahwa daging merupakan sumber makanan yang tidak sehat. Tetapi penelitian yang dilakukan akhir-akhir ini sepertinya membuat para pecinta daging kembali tersenyum.

Daging tidak seburuk yang kita kira selama ini. Bukti-bukti yang mengatakan bahwa mengurangi asupan daging mempengaruhi kemungkinan muncul sel kanker ternyata kurang kuat.

Data dari 70 studi yang menganalisis catatan kesehatan enam juta orang mengatakan bahwa risikonya bagi kesehatan sangat lemah sehingga perlu dilakukan penelitian lebih lanjut.

Daging diisi dengan hal-hal yang harus kita hindari, setidaknya begitulah hal yang terus digaungkan kepada kita karena nitrat dan lemak jenuh terkandung di dalamnya.

Dalam beberapa tahun terakhir, beberapa laporan mempertanyakan bahaya daging dan makanan olahan.

pic by skitterphoto

Pada tahun 2018, para ilmuwan dan politisi berkampanye menentang penggunaan nitrat dan nitrit sebagai pengawet dalam daging olahan karena bukti yang menghubungkan senyawa tersebut dengan kanker.

Hingga pada suatu hari Angela Dowden melakukan penilitian dan menemukan nitrat dan nitrit terdapat dalam jumlah yang jauh lebih besar di makanan yang kita konsumsi.

Faktanya 80% nitrat dan nitrit di sebagian besar makanan berasal dari sayuran – dan dalam beberapa kasus, nitrat telah dikaitkan dengan hasil kesehatan yang positif, seperti menurunkan tekanan darah.

Tak hanya itu, nitrit dapat berubah menjadi nitrosamin, zat yang dikaitkan dengan kanker usus. Ini terjadi ketika nitrit bereaksi dengan amina, bahan kimia yang ditemukan dalam makanan kaya protein – itulah sebabnya nitrat dan nitrit dalam daging, misalnya, bisa lebih berbahaya bagi Anda daripada dari sayuran.

Nitrosamin juga terbentuk dari reaksi kimia yang terjadi ketika memasak dengan api yang besar.

Itu sebabnya risiko kanker tidak terlalu berkaitan dengan komposisi makanan kita dibandingkan dengan bagaimana cara kita menyiapkannya apakah itu memanggang, menggoreng atau yang lainnya.

Berita bagusnya adalah memilih metode memasak yang mengurangi risiko kanker, seperti memasak dengan api kecil adalah tindakan pencegahan yang bisa kita lakukan.

pic by Fabio Bueno

Demikian juga pentingnya dengan bagaimana kita mengganti komponen berbahaya dari makanan kita.

Lemak jenuh dalam daging dikaitkan dengan beberapa penyakit, termasuk penyakit jantung. Tetapi mengganti lemak jenuh dengan gula dan pati olahan sebenarnya meningkatkan risiko serangan jantung.

Mengganti lemak jenuh dengan lemak tak jenuh jamak (polyunsaturated fat) telah terbukti mengurangi risiko kematian sebesar 19%. Jadi, beralih dari minyak dan lemak hewani ke minyak bunga matahari dapat membantu.

Jadi, jelas bahwa makanan yang kita konsumsi memang berkontribusi terhadap risiko kesehatan kita. Tetapi cara menyajikan informasi tentang risiko ini dapat menyesatkan.

Seperti kata David Robson, daging asap telah dikaitkan dengan kanker kolorektal, tetapi pengidap kanker jenis ini sangat jarang. Sekitar 56 dalam setiap 1.000 orang berisiko terkena kanker kolorektal dalam hidup mereka.

Jika 1.000 orang itu makan daging asap setiap hari dalam hidup mereka, jumlahnya naik menjadi 66. Memakan daging asap meningkatkan risiko kamu terkena kanker ini dalam jumlah kecil.

Bandingkan ini dengan risiko kanker akibat merokok. Untuk setiap 100 orang yang menghentikan kebiasaan itu, 10-15 akan terhindar dari kanker paru-paru.

pic by Pascal Claivaz

Namun, coba berhenti sejenak untuk berpikir. Kita mengkonsumsi jauh lebih banyak protein yang benar-benar kita butuhkan dan melengkapi diet kita dengan menambahkan protein ekstra adalah hal yang sia-sia.

Kebanyakan orang sudah mendapatkan lebih dari tunjangan protein harian yang direkomendasikan dari makanan mereka. Bahkan orang yang sadar kebugaran seharusnya tidak menghabiskan uang untuk suplemen protein karena protein yang tidak diperlukan akan dikeluarkan dari tubuh.