Kerja Terlalu Lama Bikin Botak, Mitos atau Fakta?

114

Para penilitan dari Universitas Sungkyunkwan, Korea Selatan. Mengatakan bahwa stres dapat berdampak pada kerusakan folikel rambut pria. Menurut riset, mereka terlalu berlarut-larut menghabiskan waktu untuk kerja.

Temuan tersebut, dapat dibuktikan para peniliti setelah melakukan pengamatan terhadap 13.391 pekerja, semua para laki-laki.

Mereka menjadi pelapor dalam penilitan ini berusia 20 sampai 59 tahun. Sejak 2013 hingga 2017, riset dilakukan empat tahun, demi laporan Medical Daily.

Pelapor terbagi menjadi tiga kelompok, pekerja dengan jam normal, kerja lama, dan kerja lebih lama. Kelompok pertama bekerja selama 40 jam dalam sepekan, kelompok kedua menghabiskan waktu 52 jam di kantornya, dan yang terakhir menghabiskan 52 jam selama 7 hari.

Peneliti menemukan, responden berusia 20 sampai 30 tahunan yang bekerja setidaknya 52 jam dalam sepekan, bisa dua kali lebih berisiko mengalami alopecia dibandingkan rekan-rekan mereka yang bukan workaholic. Alopecia sendiri merupakan istilah umum untuk menyebut kerontokan rambut.

Pada kelompok pekerja yang memiliki jam kerja lebih lama, risiko alopecia meningkat hampir 4 persen sementara pada kelompok jam kerja lama risiko alopecia meningkat 3 persen.

Para responden yang termasuk dalam kelompok jam kerja normal, juga berisiko mengalami kerontokan rambut, namun persentasenya hanya 2 persen.

Peneliti lantas berkesimpulan bahwa terlalu banyak mendedikasikan waktu untuk bekerja bisa menimbulkan stres hebat yang pada akhirnya mengakibatkan folikel rambut rusak.

Menurut peneliti, stres juga berpotensi mendorong folikel rambut memasuki fase catagen atau tahap transisi di mana yang tadinya rambut masih aktif untuk bertumbuh ke fase rambut sama sekali berhenti tumbuh.

Dr. Son mengatakan, ada banyak penelitian sebelumnya yang berhasil mengungkapkan mekanisme perkembangan alopecia yang dipicu oleh stres yang berlebihan.

“Kita bisa dengan hati-hati mengasumsikan hubungan antara jam kerja yang panjang dan pengembangan alopecia kemungkinan diperantarai oleh stres terkait pekerjaan,” kata Dr. Son.