Kenali Dosis Obat Dalam Ilmu Farmasi

4012

Dosis obat adalah banyaknya takaran suatu obat yang dikonsumsi oleh orang atau pasien, pemakaian untuk dalam maupun luar. Ada beberapa macam jenis dosis obat dalam kesehatan untuk dipelajari atau dimengerti.

Dosis obat yang harus diberikan pada orang atau pasien haruslah sesuai takaran karena memiliki efek samping. Karena ditentukan oleh faktor umur, berat badan, jenis kelamin dan riwayat penyakit.

Di Indonesia berpedoman menentukan dosis obat mengacau pada farmakope. Ada 2 jenis dosis obat menurut Farmakope di Indonesia.

Seperti dosis maksimal, yang dikonsumsi sekali dalam satu hari. Prakteknya, konsumsi obat berdosis lebih maksimum masih wajar, dengan syarat bertanda seru (!) sekaligus tercantum paraf dokter dalam penulisan resep dan memberi garis bawah nama obat, menulis banyak obat secara lengkap hurufnya.

Sedangkan dosis lazim, memang petunjuk tidak mengikat, namun dikonsumsi sebagai pedoman umum. Biasanya ditentukan dalam bentuk range minimum-maksimum/hari. Contohnya, CTM dosis lazim 6-16 mg/hari, sedangkan dosis maksimum 40mg/hari.

Selain 2 jenis dosis obat, ada juga beberapa macam-macam obat perlu diketahui oleh seseorang farmasi.

Dosis Terapi, takaran obat yang dikonsumsi dalam keadaan biasa, dapat juga menyembuhkan pasiennya.

1. Dosis Terapi

Adalah takaran obat yang diberikan dalam keadaan biasa dan dapat menyembuhkan pasien pengguna obat. Untuk mendapatkan ukuran dosis terapi yang bisa memerikan efek yang efektif, perlu dilakukan pengukuran presentasi efek terapi yang diharapkan pada hewan uji.

Misalnya, untuk mengukur dosis obat A, maka obat tersebut diberikan pada sejumlah hewan percobaan dengan berbagai ukuran dosis. Kemudian dihitung jumlah hewan yang tertidur setelah setengah jam obat diberikan. Dosis yang menyebabkan efek tidur pada 50% hewan uji disebut ED50.

2. Dosis minimum

Adalah takaran obat terkecil yang diberikan dan masih dapat menyembuhkan, serta tidak menimbulkan resistensi obat. Untuk mengukur dosis minimum obat, perlu dilakukan pengukuran presentase efek terapi. Selanjutnya dicatat ukuran dosis yang terkecil masih dapat memberikan efek terapi yang diharapkan, namun tidak menimbulkan resistensi.

3. Dosis maksimum

Adalah takaran obat terbesar yang diberikan dan masih dapat menyembuhkan dan tidak menimbulkan toksisitas atau keracunan pada penderita. Menurut FI edisi III, daftar dosis maksimum digunakan untuk orang dewasa 20-60 tahun dengan berat badan 58 – 60 tahun.

Ketentuan dosis maksimum bisa dilihat sebagai berikut:

– Orang lanjut usia: 60-70 tahun (4/5 dosis dewasa), 70 – 80 tahun (3/4 dosis dewasa), 80 – 90 tahun (2/3 dosis dewasa), 90 tahun keatas (1/2 dosis dewasa)

– Wanita hamil sebaiknya diberikan obat dalam jumlah kecil. Bahkan beberapa obat dapat menyebabkan keguguran ataupun kelainan janin. Wanita menyusui juga membutuhkan perhatian terhadap obat yang digunakan. Sebab obat dapat diserap bayi melalui ASI.

– Anak-anak (dibawah 20 tahun) membutuhkan perhitungan khusus, karena respon tubuhnya tidak dapat disamakan dengan dosis orang dewasa.

4. Dosis toksik

Adalah takaran obat dalam keadaan biasa yang menyebabkan keracunan pada pasien. Untuk dapat mengukur ukuran dosis toksis suatu obat, perlu dilakukan pengukuran persentase efek keracunan pada penderita atau hewan percobaan. Dalam hal ini, yang diukur adalah gejala keracunan pada hewan uji. Dosis yang dapat menyebabkan keracunan 50% hewan uji disebut TD50.

5. Dosis letal

Adalah takaran obat dalam keadaan biasa yang menyebabkan kematian pada penderita. Terdapat 2 kategori dosis letal yakni:

– L.D 50: takaran yang menyebabkan kematian pada 50% hewan percobaan

– L.D 100: takaran yang menyebabkan kematian pada 100% hewan percobaan

Penentuan dosis obat menjadi hal utama dalam memberikan pengobatan pada pasien. Setiap obat memiliki efek kerja berbeda serta respon pada penderita. Seorang apoteker dituntut untuk mampu mengenali dan mengatasi masalah penggunaan obat, agar setiap pengobatan yang diberikan menjadi efektif.