Industri Alat Kesehatan Indonesia Sulit Berkembang, Ini Alasannya!

116

Indonesia masih memiliki banyak pekerjaan pada sektor kesehatan. Misalnya, dari segi pencegahan, masih banyak petinggi yang kurang sadar akan adanya industri alat kesehatan.

Mengingat kecilnya margin disektor industri alat kesehatan karena kecilnya dalam pertumbuhannya.

Sugihadi, Ketua Umum Gabungan Perusahaan Alat-alat Kesehatan dan Laboratorium (Gakeslab) Indonesia, menuturkan saat ini rata-rata pertumbuhan industri alkes baru 5%.

Yang menjadi penghabat pertumbuhan disebabkan dunia usaha tidak diberi ruang margin yang cukup agar berubah dari importir menjadi manufaktur lokal.

“Jika usaha kami sangat minimal untuk berkembang, bagaimana kami bisa berubah dari importir ke produsen,” katanya.

Apalagi pengusaha dihadapkan dengan resiko nilai tukar rupiah yang menggerus margin.

“Terpangkasnya keuntungan sampai 20% akibat selisih kurs,” kata Kartono Dwidjosewojo.

Menurutnya, produsen alat kesehatan (alkes) sudah melakukan kontrak dengan pemerintah sejak awal tahun lalu. Setelah kontrak ditandatangani, proses pengadaan dimulai dengan melakukan impor, baik itu bahan baku untuk kemudian diolah di Indonesia, maupun alat jadi.

“Alat-alat kesehatan ini akan datang pada Juli-Agustus ini. Kami minta LKPP (Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah) membuka  ruang negosiasi yang luas,” katanya.

Kartono menambahkan, setiap anggota asosiasi akan mengirimkan surat kepada lembaga negara itu untuk melakukan penetapan harga ulang sesuai dengan kurs rupiah terhadap dolar Amerika Serikat saat ini.

Melemahnya nilai tukar rupiah hingga awal Juli 2018 ini di luar perkiraan pengusaha alkes. Akibatnya, sejumlah pengusaha alat kesehatan memilih menunggu sampai gejolak nilai tukar mereda agar produk yang mereka jual dapat diterima pasar.

“Kalau ini dibiarkan dan tidak ada dukungan pemerintah, bukan tidak mungkin usaha anggota harus tutup dan memberhentikan pekerjanya mulai awal tahun depan,” imbuh Kartono.