Indahnya Toleransi, Seorang Nasrani disemayamkan di halaman Masjid di Senen

113

(sumber: Jeferson Goeltom – Facebook)

Di tengah memudarnya potret toleransi antar beragama di Indonesia, sebuah potret toleransi antar beragama yang indah dihadirkan oleh warga Cempaka Baru, Kemayoran, Jakarta Pusat. Pasalnya halaman masjid dijadikan tempat kebaktian persemayaman jenazah seorang Nasrani. Hal ini pertama kali dibagikan oleh Jeferson Goeltom lewat halaman Facebooknya.

Aksi toleransi itu terjadi saat seorang warga setempat yang beragama Kristen yang merupakan istri dari keponakan Jeferson Goeltom meninggal dunia. Namun, jenazah yang sudah ditempatkan dalam peti mati itu tak bisa dibawa ke rumah duka untuk prosesi kebaktian, sebab rumahnya berada di dalam gang sempit. Alhasil, keluarga dan umat Kristen yang hendak melakukan kebaktian dipersilakan memakai halaman masjid setempat.

Dari unggahan tersebut, kita bisa melihat beberapa orang yang duduk menghadap peti jenazah, sementara ada seorang pendeta yang sedang memimpin jalannya kebaktian. Jeferson Goeltom pun menulis demikian dalam halaman facebooknya.

(unggahan oleh jefferson goeltom)

“Indahnya Harmoni dan Toleransi di Cempaka Putih. Hari ini mengikuti kebaktian tutup peti, dimana istri keponakan meninggal dunia. Karena satu hal lokasi rumah di gang sempit dan peti tidak masuk bisa masuk ke dalam rumah, ada kejadian luar biasa yang kami rasakan karena diizinkan beribadah di depan masjid. Terima kasih saudaraku pengurus masjid dan masyarakat di sekitar atas bantuan dan ‘Toleransi yang Super Tinggi’. Kiranya Tuhan memberkati dan melindungi serta memberikan berkah yang indah untuk kalian semua. Love you all,” tandasnya.

Potret toleransi yang diunggah itu pun langsung dibanjiri like dan komentar dari warganet. Banyak dari mereka yang memberikan komentar pujian seperti berikut ini.

“Indahnya kesatuan Indonesia, meskipun berbeda tetapi saling menghargai,” kata Mary Lee.
“Inilah NKRI, karena kita adalah persatuan Indonesia,” tulis Lili E. Andriani.
“Inilah Indonesia yang sebenarnya. Perbedaan tidak menjadikan perpecahan. Kadang, orang-orang yang tidak suka dengan hal seperti ini yang akan menjadi biang keladi dari perpecahan,” tulis Melysa Innosensia Citienjk.