Placebo atau Plasebo adalah sebuah pengobatan yang tidak berdampak atau penanganan palsu yang bertujuan untuk mengontrol efek dari pengharapan.

Istilah plasebo diambil dari bahasa latin yang berarti “I shall please” (saya akan senang) yang mengacu pada fakta bahwa keyakinan akan efektivitas dari suatu penanganan akan dapat membangkitkan harapan yang membantu mereka menggerakkan diri mereka untuk menyelesaikan masalah tanpa mengetahui zat yang mereka terima adalah aktif secara kimiawi atau tidak aktif.

Bagaimana Efek Placebo Bekerja?

Tidak ada hal yang magis pada cara kerja efek placebo. Sebaliknya, hal ini adalah hasil dari interaksi faktor psikologis dan biologis yang terjadi di dalam tubuh kita.

Awalnya dianggap sebagai karangan atau murni psikologis, efek placebo baru-baru ini ditemukan memiliki respons biologis yang sah!

Penelitian telah membuktikan bahwa efek yang disebabkan oleh placebo dapat menyebabkan perubahan nyata dalam mekanisme otak dan jalur pensinyalan neurobiologis.

Respons biologis terhadap placebo dipicu oleh harapan kita untuk sembuh. Kita merasa lebih baik setelah mengkonsumsi obat (placebo) karena kita berharap obatnya bekerja.

Antisipasi akan bantuan memicu kemampuan alami tubuh kita untuk menyembuhkan dan mengaktifkan pusat otak kita, melepaskan endorfin.

Endorfin, juga disebut ‘penghilang rasa sakit alami’, secara kimiawi mirip dengan opioid (misalnya, Morfin) dan menyebabkan menghilangnya rasa sakit dengan cara yang sama.

Lalu hal ini juga melepaskan dopamin, neurotransmitter yang terkait dengan penurunan sensitivitas terhadap rasa nyeri.

Jadi, placebo, tanpa sifat medis, dapat mengurangi rasa sakit tanpa benar-benar melakukan apa pun.

Placebo hanya membodohi pikiran kita untuk meyakinkan tubuh kita bahwa itu sebenarnya obat sungguhan, sehingga merangsang penyembuhan.

Ini berarti efek placebo hanya akan termanifestasi jika kita berharap dan sepenuhnya percaya bahwa kita akan merasa lebih baik.

Akibatnya, hal tersebut tidak akan berhasil jika kita tahu bahwa obat yang kita konsumsi bukan obat sungguhan.

Namun, jika kita pergi ke rumah sakit dan menjelaskan masalah kita kepada dokter yang kita percaya yang kemudian memberi kita pil gula (sugar pill istilah aslinya) yang sama tanpa menyadari itu bukan obat sungguhan, kita akan percaya pada kemampuan terapi pil dan mengharapkannya untuk bekerja.

Ini meningkatkan pentingnya konteks sosial seputar perawatan, misalnya hubungan pasien dengan dokter.

Tingkat kenyamanan yang kita rasakan dengan dokter dan jumlah kepercayaan yang kita tempatkan padanya sangat memengaruhi besarnya efek placebo.

Kepastian dan keyakinan terhadap dokter akan keefektifan perawatan juga sangat membantu dalam menentukan respons tubuh kita terhadap placebo.

Namun, placebo tidak dapat menyembuhkan penyakit; mereka hanya bisa membantu kita menenangkan rasa sakit dan ketidaknyamanan kita dengan mengatasi gejala-gejala yang diatur oleh otak kita.

Tapi ternyata tak hanya efek placebo yang ada. Ada juga sesuatu yang mirip placebo tapi berlawanan sifatnya yaitu nocebo.

Apa Efek Nocebo?

Contoh kasus:

Sebagai seorang anak, saya selalu takut akan suntikan. Dalam satu kunjungan yang menakutkan ke dokter, kakak laki-laki saya menemani saya.

Ketika kami sedang menunggu dokter, dia memberi tahu saya betapa suntikan itu menyakitkan dan menceritakan banyak kisah suntikan yang aneh.

Dengan ketakutan, saya masuk ke dalam ruangan, lalu tiba saatnya untuk suntikan yang menakutkan tersebut, dan saya bersumpah bahwa itu adalah hal yang paling menyakitkan yang pernah saya rasakan sepanjang hidup saya!

Apa yang saya alami hari itu adalah efek nocebo.

Efek nocebo adalah kebalikan dari efek placebo. Sementara harapan positif menyebabkan efek placebo, yang mengurangi rasa sakit dan memberikan kelegaan, harapan negatif menyebabkan efek nocebo, yang sebenarnya membuat kita merasa lebih buruk.

Sebagai contoh, jika kita sangat percaya bahwa suatu pengobatan akan memiliki efek samping, kita akan mengalami efek samping ini, walaupun perawatan itu palsu.

Efek nocebo dapat dihasilkan dari saran yang berupa verbal, yaitu memperingatkan seseorang tentang rasa sakit yang sebenarnya dapat benar-benar membuat rasa sakit tersebut.

Orang-orang yang diperingatkan bahwa arus listrik ringan akan melewati kepala mereka, menyebabkan sakit kepala, mengalami sakit kepala meskipun tidak ada arus yang benar-benar dilewati.

Terkadang, pengkondisian kita sendiri dan pengalaman masa lalu membuat kita merasakan efek buruk ini.

Ini menjelaskan mengapa kita merasa mual ketika kita memasuki kantor dokter gigi jika kita memiliki pengalaman yang menyakitkan di masa lalu ketika gigi dicabut.

Efek nocebo masih belum dapat dijelaskan dengan rinci dalam hal mekanisme biologisnya.

Namun, nocebo mirip halnya dengan bagaimana cara kerja pelepasan endorfin, antisipasi efek samping dapat melepaskan hormon stres, menghasilkan efek negatif dari efek nocebo.

Sangat menarik untuk dicatat bahwa sugar pill yang sama yang berfungsi sebagai placebo dapat berubah menjadi nocebo jika diberi motivasi atau pesan verbal yang negatif.

Apakah Placebo Digunakan Dalam Uji Klinis?

Placebo telah terbukti sangat berguna dalam uji klinis untuk menguji efektivitas perawatan, terutama untuk obat penghilang rasa sakit.

Dalam uji coba semacam itu, orang dibagi menjadi dua kelompok.

Satu kelompok yang mendapat obat nyata dan yang lain mendapat placebo. Reaksi kedua kelompok dicatat dan dibandingkan.

Jika tingkat perbaikan yang ditawarkan oleh obat tidak secara signifikan lebih tinggi dari apa yang ditawarkan oleh placebo, obat tersebut tidak di-approve, bahkan jika itu menunjukkan peningkatan dalam kondisi pasien.

Peningkatan yang terlihat pada penggunaan obat harus merupakan jumlah dari efek biokimia dan efek placebo. Oleh karena itu, jika obat tidak dapat mengungguli placebo secara medis, obat tersebut tidak akan di-approve!

Pertanyaan logis selanjutnya adalah: jika placebo sangat kuat dan efektif, mengapa dokter tidak meresepkannya sebagai pengobatan?

Mengapa Dokter Tidak Meresepkan Placebo?

Menggunakan placebo sebagai pengobatan adalah hal yang logis untuk dilakukan, mengingat kegunaannya yang menakjubkan.

Selain itu, ini akan memangkas biaya perawatan, karena placebo pada dasarnya hanya sugar pill. Jadi mengapa kita tidak melihat placebo digunakan untuk merawat pasien?

Agar placebo berfungsi, dokter harus ‘menipu’ pasien mereka dengan menyembunyikan fakta bahwa mereka meresepkan placebo.

Hal ini dianggap tidak etis oleh banyak profesional medis, karena pasien tidak dalam posisi untuk memberikan persetujuan untuk perawatan.

Faktanya, American Medical Association telah melarang penggunaan placebo tanpa persetujuan dari pasien, sebuah fakta yang dijelaskan dalam kebijakan etik yang direvisi pada tahun 2006.

Memberikan placebo kepada pasien akan membahayakan ikatan antara dokter dan pasien, jika pasien mengetahui bahwa mereka telah ditipu.

Selain itu, jika placebo diperbolehkan untuk diresepkan maka akan ada risiko ‘dokter akan sering meresepkan placebo‘, yang menyebabkan banyak kasus kelalaian dan kesalahan diagnosis.

Namun, dokter selalu dapat menciptakan efek placebo dengan kebaikan, kasih sayang, dan kemampuan mereka untuk membangun hubungan yang bermakna dengan pasien mereka.

Ketika semuanya dilakukan, efek placebo memberi kita pelajaran hidup yang sangat penting.

Ini sebagai pengingat bahwa pikiran kita adalah hal yang kuat dan kita dapat memanfaatkannya dengan baik.