Dua Bulan Usai IPO, Xiaomi Kantongi Laba Rp30 Triliun

84

Tepat dua bulan usai melantai di bursa saham Hong Kong, Xiaomi pada Rabu (22/8) mencatatkan laba sebesar 14,6 miliar yuan (sekitar US$2,1 miliar) atau setara Rp30,5 triliun.

Revenue perusahaan asal China tersebut meningkat 68 persen dibandingkan periode yang sama setahun sebelumnya sebesar 45,2 miliar yuan (sekitar US$6,6 miliar.)

Rival senegara Oppo dan Vivo tersebut melantai di bursa saham Hong Kong setelah mengantongi valuasi sebesar US$4,7 miliar dan menjadi IPO terbesar di jagat teknologi setelah Alibaba pada 2014 lalu.

Selain dikenal sebagai perusahaan pembuat perangkat keras, Xiaomi terus berupaya membuat imej sebagai perusahaan internet. Mengingat, strategi perusahaan yang bukan sekedar jualan perangkat tapi juga menawarkan layanan seperti aplikasi pemutar musik dan video.

Namun, upaya Xiaomi tersebut masih terganjal pada melambannya pertumbuhan bisnis layanan internet. Xiaomi mengantongi revenue sebesar US$9,55 juta dari layanan internet. Sebagai pembanding, Apple mengantongi revenue US$9,55 miliar dari layanan internet dan peranti lunak pada kuartal lalu.

Demi mendongkrak revenue, Xiaomi secara agresif terus mendorong adopsi layanannya ke pengguna di luar China. Meski faktanya, hal tersebut menjadi tantangan besar untuk mengiming-imingi pengguna di luar Negeri Bambu.

“Kami tidak melihat ada banyak pengguna ponsel Xiaomi yang mau menggunakan layanan mereka. Mengingat di luar China ada banyak pilihan,” ungkap Kiranjeet Kaur, analis IDC seperti dilaporkan CNN.

Sejumlah analis juga menyebut Xiaomi harus berhasil membuat produk yang beragam, bukan sekedar ponsel. Meski tak dipungkiri jika ponsel menjadi produk paling laris terutama di India dan Asia Tenggara.