Cerita dari Perbatasan Kota Sintang: Garuda di Dada, Ringgit di Kantong

90

Sudah 73 tahun Indonesia merdeka, tapi warga di perbatasan masih belum begitu akrab dengan mata uang rupiah.
Sehari-hari, warga di Desa Sei Kelik, Kecamatan Ketungau Hulu, Kabupaten Sintang, Kalimantan Barat lebih terbiasa bertransaksi dengan mata uang Malaysia, ringgit.

Celi misalnya. Warga Desa Sei Kelik ini lebih memilih belanja kebutuhan pokok di Pasar Kuari Lacau, Serawak dibandingkan Balai Karangan, Sintang.

“Dekat, dua jam pakai jalan kaki [ke Kuari Lacau]. Tidak pernah ke Balai Karangan, ke Malaysia terus. Kalau ke Balai sekitar lima jam [pakai kendaraan bermotor],” ujar Celi saat ditemui di Desa Sei Kelik, Sintang, Senin (17/9).

Seminggu sekali Celi mampir ke Negeri Jiran. Ia membeli kebutuhan pokok seperti minyak goreng, beras, gula, kopi, dan gas.

Biasanya dia membawa uang ringgit dan rupiah. Di tempat tujuan, ada penukaran mata uang. Kisaran kurs tukar adalah Rp3.500 ribu per ringgit.

Desa Sei Kelik berjarak sekitar 6 kilometer dari perbatasan Indonesia-Malaysia. Sementara jarak Sei Kelik ke Balai Karangan lebih dari 100 kilometer.

Perjalanan melelahkan ke Malaysia terpaksa Celi tempuh karena memang akses di perbatasan belum memadai. Selain itu, faktor harga yang lebih terjangkau kantong juga jadi pertimbangan.

“Masih mahal kita, murah di Malaysia,” lanjutnya.

Namun saat ini TNI dan Pemerintah pusat sedang berupaya memutus ketergantungan itu dengan membuka jalan paralel di kawasan perbatasan.

“Saya pikir ini [berkurangnya ketergantungan terhadap Malaysia] sejalan, seiring dengan keberhasilan pembangunan infrastruktur. Makin cepat pembangunan, lambat laun [ketergantungan] akan terkikis,” kata Supriyadi saat ditemui di Desa Nanga Bayan, Sintang, Selasa (18/9).

“Belanja ke Malaysia bukan masalah nasionalisme, tapi akses,” tutur dia.