Budaya Antri, Budaya Jaman Purba?

145

Bagi manusia budaya antri sudah lama dikenal dipelajari sejak lama sekali, bahkan diriwayatkan sejak jaman purba. Memang dahulu kala bila tidak mau mengantri pasti akan beradu tongkat atau batu.

Ditahun 1969, seorang peneliti dari Harvard University, bernama Leon Mann, menuliskan artikel berjudul “Queue Culture : The Waiting Line as a Social System”. Diringkaskan bahwa sebagai instrument Sistem Sosial Masyarakat, Budaya mengantri seharusnya diterapkan oleh para pelakunya, secara seimbang dengan baik.

Ada beberapa prinsip utama dalam melaksanakan budaya antri, bahwa harus berdisiplin patuh kepada nilai kegiatan tersebut, pada setiap pelayanan di Indonesia saat ini antri menggunakan berbagai sarana, dari yang paling sederhana sampai dengan yang terkini.

Kejadian tumpukan antrian yang padat yang aktual adalah bahan bakar kendaraan akhir-akhir ini, mengembalikan fungsi antri sebagai refleksi dari kematangan berbudaya masing-masing orang tidak berbanding lurus dengan tingkat pendidikan orang tersebut.

Teorinya dapat menjadi, semakin tinggi tingkat pendidikan oleh karena berada pada lingkungan dan karakter egaliter yang modern maka prinsip persamaan semakin dijunjung. Siapa datang terlebih dahulu yang akan mendapat pelayanan dahulu.

Akan menjadi masalah jika salah seorang yang memiliki latar belakang pendidikan rendah maupun tinggi atau punya uang pas maupun bisa membayar lebih, namun melakukan kudeta terhadap budaya mengantri.

Demi pelayanan yang proporsional tentunya akan tercipta bentuk reaksi berupa protes, teriakan bahkan hujatan.

Mungkin kita perlu belajar dari negara lain, dimana masyarakatnya sadar akan pentingnya budaya antri.

Karena, jika kita semakin memiliki rasa malu apabila melanggar aturan, semakin tinggilah nilai bangsa kita. Sebaliknya semakin tidak punya malu, semakin rendahnya nilai bangsa kita.

Andai kita bisa memulai dengan memantapkan diri sebagai masyarakat dan meningkatkan komitemen sebagai pemerintah untuk menjunjung tinggi budaya antri di kehidupan sehari-hari, maka akan terbentuk budaya dan pola pikir yang berguna untuk memecahkan masalah kompleks lainnya.