Bahasa.ai Dapat Investasi Dari East Ventures

231

Bahasa.ai, sebuah perusahaan penyedia jasa kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), hari ini mengumumkan telah mendapatkan pendanaan tahap awal dengan jumlah yang tidak disebutkan dari East Ventures.

Investasi ini akan mempercepat misi perusahaan untuk membangun mesin NLP/NLU (Natural Language Processing/Understanding) yang paling kuat untuk Bahasa Indonesia dan memampukan kecerdasan buatan untuk memakai bahasa Indonesia dengan lebih relevan dan kontekstual.

Saat ini, Bahasa.ai mengimplementasikan teknologinya untuk membantu perusahaan mengeksekusi strategi chatbot mereka. Hokiman Kurniawan selaku CEO Bahasa.ai mengungkapkan, setidaknya ada 2 elemen yang harus diatasi untuk membuat chatbot berbahasa Indonesia yang baik, yakni teknologi dan desain.

Dari sisi teknologi, pembuatan modul NLP/NLU bahasa Indonesia memiliki tantangan besar dikarenakan adanya banyak bahasa slang yang dinamis serta struktur tata bahasa yang rumit. Untuk mengatasi kendala tersebut, Bahasa.ai memiliki berbagai mesin untuk terus mempelajari gaya serta penggunaan bahasa orang Indonesia, salah satunya adalah mesin crawler yang senantiasa terus memantau dari media sosial.

“Kami juga memiliki metode khusus untuk mengatasi kata-kata yang secara semantik terus berulang. Misalnya penggunaan kata saya, aku, dan gue yang secara semantik mirip, dapat dipetakan oleh mesin kami sehingga chatbot mampu mengenali konteks percakapan,” ungkapnya.

Dari sisi desain, Hokiman menekankan pentingnya memiliki kerangka desain yang dapat memungkinkan chatbot untuk memberikan kontribusi nyata terhadap tujuan bisnis klien dan membantu perusahaan mendapatkan lebih banyak keuntungan dan manfaat. Bahasa.ai senantiasa menerapkan pandangan ini dengan terus mengembangkan produk serta layanan yang dapat menjawab kebutuhan pelanggan.

Fathur Rachman Widhiantoko, CTO Bahasa.ai, mengatakan, penerapan dan teknologi yang tepat untuk chatbot berbasis kecerdasan buatan dapat sangat bermanfaat bagi bisnis.

“Salah seorang klien kami yang merupakan perusahaan distribusi lokal di Banten mampu secara konsisten menghasilkan pendapatan tambahan sebesar Rp. 600-900 juta setiap bulan melalui strategi chatbot yang baik,” jelasnya.

Sementara itu, menurut Samsul Rahmadani, Chief Artificial Intelligence Bahasa.ai menjelaskan, ke depannya, harapan pelanggan untuk dapat berinteraksi dengan brand layaknya berkomunikasi dengan teman akan semakin tinggi. Dibutuhkan teknologi yang memungkinkan mesin untuk berinteraksi dengan manusia secara mulus, sehingga perusahaan dapat melakukan interaksi pribadi baik skala rendah maupun besar dengan pelanggan mereka.

“Misi kami adalah membuat mesin dapat mengerti bahasa Indonesia secara komprehensif. Kami percaya teknologi ini tidak hanya dapat diimplementasi pada chatbot saja. Ketika mesin dapat berbahasa Indonesia dengan baik, akan ada banyak potensi pertumbuhan produktivitas di Indonesia,” ujar Hokiman.

Melisa Irene selaku Principal East Ventures mengatakan, “Bahasa adalah warisan unik bagi Indonesia. Dengan lebih dari 700 dialek yang diucapkan di negara tersebut, sebagian besar orang Indonesia akan berbicara dengan dua bahasa: Bahasa Indonesia dan dialek. Hal ini menghasilkan banyak variasi slang, ejaan, dan singkatan ketika kita berkomunikasi baik lisan maupun tulisan, yang kemudian menghadirkan peluang besar untuk NLP / NLU di Indonesia. Kami percaya bahwa Hokiman dan tim memiliki pola pikir yang benar untuk mengambil pendekatan pasaran dalam membangun teknologi yang akan benar-benar memahami pengguna Indonesia.”

Sumber: merdeka.com